Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

3.9.10

Pulang Kampung!!

Ayo Pulang kampunggg....!!!

Buat temen-temen yg tinggal di luar kota, saatnya mau lebaran pasti sibuk mikirin kampung halaman (inget lagu padang: kampuang nan jauh di mato...). mau lebaran bukan cuma sibuk mikirim bakal pake baju apa, sepatu apa, mau bawa oleh-oleh apa.. tapi juga sibuk mikir tiket pulang!!

Kayak aq ni yg merantau ke jakarta (padahal anak cewek satu-satunya di rumah.. hikss.. maafkan Adinda, Bundo!!), 2-3 bulan sebelum lebaran udah iseng nanya ke travel buat beli tiket pesawat lebaran. gileee... harganya dah 800ribu lebih!! apa daya pegawai yg masih berusaha berhemat hasil banting tulang, kutetap menunggu mukjizat tiket pulang akan turun pada saat yg indah.. hahahaha.. *LEBAY mode on.

Mau masuk bulan ramadhan, nelpon travel lagi. huuuuuummmm.. tiketnya masih mahal... T_T
tapi, denger2 dari temen katanya coba telpon travel aja terus. karena bisa jadi suatu saat ada promo. ok deh, i tried..
2 minggu kemudian.. kok makin mahal ya?? sudah harap2 cemas nih.. seolah asa sudah mau putus. dan setelah kucek ke maskapai yg "lumayan terpercaya" dan servicenya bisa dibilang lebih baik dibanding yg lain, harga tiket sekitar 1,5jt. lumayan deh, beda 100ribu dari tiket pulangku tahun lalu. daripada ditunda-tunda, ntar aq malah gak dapet tiket dan gak pulang!! oke.. deal. tiket sudah di tangan!!

Tinggal siapin oleh2 buat orang di rumah deh.. jangan lupa juga THR buat yg membutuhkan. bagi-bagi rezeki biar rezeki kita juga makin lancar.. amiiiinnnn..

Met Lebaran ya..
Met Ied Fitri..
Minal aidin wal faidzin..
Mohon maaf lahir dan batin..
:)

28.5.09

Kita Dekat dengan Kematian Kita

Kubenamkan diriku dalam kasur busa di kamar kostku. Aku bisa merasakan denyut jantungku. Artinya aku masih hidup! Alhamdulillah..
Aku tak pernah bisa membayangkan jika saja denyut itu berhenti, mungkin tak seorangpun yg tau aku mati sampai mereka menemukanku membusuk di dalam kamar (ironis dan hiperbolis sekali).

Aku senang mendengar denyut jantungku.
Berkali-kali ku benamkan diriku tengkurap dan telinga kutempelkan di sana.
Berirama, teratur, tidak cepat, tidak lambat.
Selamat!! Semoga aku tidak menderita kelainan jantung... Insya Allah.

****

Tak seorangpun dari kita akan pernah bisa membayangkan betapa berharganya hidup ini.
What a priceless life, even in every second of it.
Tak ada yg tau kapan malaikat Izrail akan mencabut nyawa kita. Dengan kata lain, kita tak kan pernah tau kapan tanggal kematian kita.
Aku berharap orang-orang terdekatku tidak begitu berduka atas kepergianku nanti. Karena kuharap aku akan dikenang atas segala hal yg telah kulakukan untuk orang-orang yg kucintai.
Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama...


****

Aku tak pernah tau tanteku akan meninggal tak sampai seminggu setelah kepergianku untuk pendidikan di Kopassus. Bahkan aku masih ingat sehari sebelum keberangkatanku, kami beres-beres di kamarku untuk menyiapkan barang-barang dalam koper.
Saat itu mama papa sedang naik haji, sehingga kedua tanteku yg mengecek segala kebutuhanku.

Aku masih ingat saat dia mengirim sms terakhirnya untuk berpesan bahwa aku tak perlu khawatir dengan keadaan rumah (hanya ada kakak dan adikku di rumah), dia akan mengabari keadaanku pada mama papa (malam itu terakhir kali aku memegang HP di Kopassus). Aku bahkan tak bisa tenang saat pelatih meminta kami berbaring terlentang untuk tidur sejenak di lapangan saat itu. Sementara orang lain tidur, aku malah menangis tersedu-sedu. Aku berpikir tentang keadaan mama papa yg akan pulang dg selamat dari tanah suci Makkah, kakak dan aldy yg kutinggal di rumah kuharap baik-baik saja, nenek yg sedang sakit, dan ku harap tanteku baik-baik saja saat melahirkan, dan seseorang yg kutinggalkan ke bogor semoga tidak benar-benar sekarat).

Aku tak pernah membayangkan tanteku akan meninggal sesaat setelah melahirkan anaknya dan mengalami pendarahan hebat, bahkan kata papa pembuluh darah otak tante pecah saat itu.
Aku tak pernah tau dia akan pergi di umurnya ke-35 meninggalkan suami dan 2 anaknya.

****

Aku juga tak pernah membayangkan temanku Gita akan meninggal saat operasi pengangkatan tumor di rongga jantungnya. Aku berpikir dia akan baik-baik saja, bahkan dokter-dokternya saat itu didatangkan dari Jakarta.
Aku tak pernah tau dia akan pergi di umurnya ke-23 meninggalkan kedua orangtuanya, 2 adik laki-lakinya dan meninggalkan kami untuk selamanya.

****

Aku tak pernah berpikir bahwa sesorang yg telah beberapa kali divonis masih bisa bertahan sampai saat ini. Setelah 10 hari kutinggalkan tanpa kabar, aku masih bisa mendengar suaranya di hari ke-11 setelah itu. Tapi aku tak pernah tahan dan selalu khawatir saat dia mengatakan sakit kepala, atau jantungnya berdetak cepat, atau kudengar suara nafasnya sesak, dan lain sebagainya. Aku khawatir dia juga akan pergi. Harus ada seseorang yg menjagamu di sana dan aku tak bisa. Tapi aku sungguh bersyukur masih bisa mendengar nafasmu sampai saat ini.

****

Aku tak ingin tau tanggal kematianku, biarlah itu menjadi rahasia Allah.
Jika saja hari itu datang, aku hanya minta beberapa hal ya Rabb...
Ku mohon jangan persulit cara kematianku.
Ku mohon ingatkan aku agar tak lupa untuk selalu mengingat dan menyebut nama-Mu di penghujung nyawaku.
Ku mohon aku bisa merasakan surga setelah neraka -ku sadar aku pasti punya dosa- bersama orang-orang yg kusayangi dan kucintai sepanjang hidupku.

Sungguh, tiap manusia itu sangat dekat dengan kematiannya.

@280509.2050

27.5.09

Git... maafin kami ya...

Saat itu aku baru sampai di rumah om-ku di bilangan tangerang. Saat ku lihat HP-ku berbunyi, ku lihat nama QQ di sana. Tumben, pikirku.
"Assalamu'alaikum Ki. Ada apa ya?" (Percakapan itu sebenarnya menggunakan bahasa palembang dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia di sini)
Akhirnya dia bertanya kabar dan dimana aku sekarang, setelah itu...
"Ma, aku denger Gita lewat?"
Tak mengerti ucapannya, aku memperjelas.. "Lewat gimana ki?!?"
"Meninggal ma.."
JEDERR!! Bak kena petir di siang bolong, aku terkejut.
"Ki serius, kamu dapet kabar dari mana??"
"Aku dapet kabar dari temen di palembang, trus ada sms juga yg ngomong itu."
"Ya udah, aku tanya ke nenny dulu kabarnya ya."
Saat ku tanya nenny, dia pun berkata hal yg sama. Dan dia sedang bersiap-siap memastikan kondisi yg sebenarnya ke RS.
Saat itu, aku baru ingat bahwa itu hari operasi gita.. Dan tak ku sangka, memang benar kabar itu.

****

Aku melihatnya tergolek lemas di ranjang. Nenny bilang, dia habis muntah-muntah. Kayaknya maag-nya kumat. Dia habis makan nasi sama hati ampela -klo aku gak salah ingat-.

Waktu aku datang, nenny udah beranjak dari kamarnya bersama adiknya. Dia lagi hamil hampir 2 bulan, tapi udah keliatan kurus. "Mudah kecapekan sekarang.", kata nenny.
Waktu aku ingin masuk ke kamar perawatan Gita, ada papanya dan Tara -adiknya- di depan. Melihat aku datang, papanya langsung memanggil istrinya yang ada di dalam kamar. "Tolong didoakan.", pesan papa Gita sebelum aku masuk kamar. Aku membalasnya dengan senyuman.
Saat aku masuk kamar, dia lemas dan terlihat sangat kurus. Berbeda dengan Gita yang biasanya -badan yang berisi, ceria, agak sedikit cerewet malah-, tapi yang kulihat bukan dia yang "biasa". Waktu aku masuk, dia hanya bisa tersenyum tapi sangat lemah di ranjangnya.

"Gita baru muntah. Tadi dia makan nasi sama hati ampela. Katanya bosen liat makanan rumah sakit.", mamanya menjelaskan padaku sambil membereskan sesuatu di kamar mandi.
Akhirnya sepanjang sore itu, aku hanya bercerita dengan mamanya.
"Irma ke sini karena besok irma mau berangkat ke jakarta. Irma ditempatin di sana."
Mamanya bercerita bagaimana Gita suka kecape'an, terus mulai drop dan harus pulang ke Palembang untuk dirawat di RS. Kuliah S2-nya di UGM sementara stop dulu untuk memulihkan kondisinya. Saat itu, dokter memvonis Gita kena tumor di rongga jantung. Dan mengharuskannya bolak-balik RS karena jantungnya dipenuhi cairan.

Saat aku pulang, satu hal yg kusesali tak kulakukan. Aku begitu ingin mencium dahinya saat itu, tapi tak kulakukan..
"Syafakallah sifaan ajilan, syifaan laa yughadiru ba'dahu saqaman"
Semoga Allah menyembuhkanmu dengan kesembuhan yang tiada sakit setelahnya...


****

Dulu saat SMU, Gita paling sering mengejekku karena aku yg agak lemot.. Panggilan sayangnya untukku adalah "dodol". Tapi sesungguhnya aku tau dia sayang padaku. Dia salah satu sahabat terbaikku selain anggota G6K8 yg lain...
Setelah kuliah dan kami terpisah antara palembang-jogja. Kami tetap berkomunikasi dan kumpul-kumpul baik antara G6K8 dan anggota KODRAT lain.
Bahkan kami suka curhat tentang apapun, bahkan saat aku berencana untuk kuliah S2 ternyata malah dia yg melanjutkan (walau tidak selesai).

Yg sedikit kusesalkan, Gita tak cerita tentang penyakitnya. Aku tau dari nenny sebelum pulang diklat ke palembang sebelum ke jakarta lagi. Bahkan selain aku dan nenny, G6K8 baru tau penyakitnya di saat hari dia meninggalkan kami untuk selamanya.


****

Aku hanya bisa menangis saat di hari itu aku tak bisa melihatnya untuk terakhir kali.
Aku menyesal saat tak mencium dahinya saat aku pergi meninggalkan rumah sakit hari itu.
Saat dirimu tiada, hanya satu dari kami yg bisa melihat dirimu untuk tidur selamanya.
Aku hanya bisa berdoa, "semoga dirimu tak merasakan sakit lagi di sana git.. kami di sini selalu berdoa untuk dirimu..."
"Teman-teman, nenny sudah mewakili kalian melihat dan mencium Gita untuk terakhir kalinya." Itu isi sms nenny sebelum Gita dikuburkan dan masih kusimpan di inboxku..

18.5.09

Cerita Mengharukan (Kisah Seorang Kakak dan Adik)

Sebuah Kisah untuk kita renungkan dan jadikan motivasi..

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. ” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! “Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, … tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan sodara dan keluarga kita.

Sumber : http://priendah.wordpress.com/2009/05/13/cerita-mengharukan-kisah-seorang-kakak-dan-adik/

15.5.09

Ternyata Hidup Ini Sederhana

Ternyata... Hidup Ini Sederhana...

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam
tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan
pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah,
cukup memelihara kebiasaan yang baik.

---- 000 -----

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda.
Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak
untuk diperbaiki di toko tsb.
Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga
membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.
Murid-murid lain menertawakan perbuatannya.
Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil
sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya. Ternyata untuk
menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit
saja.

---- 000 -----

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu
menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak
marah-marah. " Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya
perlu tidak marah-marah.

---- 000 -----

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya
berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan
tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku,
tapi aku sedang membina anakku." Ternyata membina seorang anak sangat mudah,
cukup membiarkan dia rajin bekerja.

---- 000-----

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya:
"Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana
cara mencarinya?"
Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."
Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang
cekung ke dalam."
Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi." Pelatih
memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung
rumput sebelah sini hingga ke
rumput sebelah sana."
Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang,
cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap
secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

---- 000 -----

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang
tinggal di pinggir jalan:
"Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."
Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa,
malas untuk pindah."
Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk
katak "pinggir jalan"
dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil
yang lewat.
Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri,
cukup hindari kemalasan saja.

---- 000 -----

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir,
semua berjalan dengan berat, sangat menderita,
hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.
Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?"
Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan
saya sedikit."
Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan,
cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

;)
Sumber : milis tetangga

4.3.09

PEREMPUAN YANG DICINTAI SUAMIKU

Cintailah keluarga kalian dengan tulus selagi masih ada waktunya.

So touchy...... hiks..... ....

=20
=20
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi ke kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit.Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami.
Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya,dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, tiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh. dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan..aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya.
Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton.
Kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

*Dear Meisha,*

*Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.*

*Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yaang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya. *

*Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami,namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan..*

*Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami.
Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat
Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.*

*yours,*

*Mario*

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua.
Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya?
Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu.
Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian.
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

" *Mario, suamiku..*

*Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja,dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku...*

*Ternyata aku keliru.. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.*

*Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"*

*Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.*

*Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.*

*Istrimu,*

*Rima*

*Di surat yang lain,

*...Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha.."*

Disurat yang kesekian,

*...Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.*

*Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2
padamu,aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi.
Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.. .*

*Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya.. .."*

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya. dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini.

*......Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia.
Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.*

*Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.*

*Tahukah engkau suamiku,*

*Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?..."*

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi.. aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante... aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.." Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

*Dear Meisha,*

*Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya.
Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar..
Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?*

*Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan,Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku..*

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. *Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.*

Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend....may you rest in peace...)

Yesterday is a history.
Tomorrow is a mystery.
Today is a gift.
That's why it's called "present".